Sistem energi di seluruh kawasan ASEAN+3 (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, ditambah Tiongkok, Jepang, dan Korea) menghadapi tekanan yang semakin besar. Guncangan iklim mengancam infrastruktur dan pasokan energi.
Perkembangan pesat kecerdasan artifisial (AI) dan infrastruktur digital mendorong lonjakan permintaan listrik. Selain itu, ketegangan geopolitik menambah volatilitas baru di pasar energi global.
Meskipun kawasan ini kini lebih tangguh terhadap guncangan energi dibandingkan sebelumnya, berbagai tekanan tersebut menimbulkan tantangan baru bagi stabilitas makroekonomi. Perubahan iklim tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan, tetapi semakin menguji sistem energi—termasuk pembangkit listrik, rantai pasok bahan bakar, dan jaringan listrik—dengan dampak luas terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan klik disini